Pencak Silat Kuntau Bangkui Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah

Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui apakah ada pencak silat Dayak ? Apa itu Kuntau Bangkui Dayak Ngaju ? Sejak kapan beladiri tersebut muncul ? Mungkin bukan hanya masyarakat Indonesia yang umumnya tidak mengetahui hal tersebut, dizaman sekarang pun sebagian orang Kalimantan sendiri, terkhusus generasi Dayak Ngaju modern banyak yang tidak mengetahui apa itu "Kuntau Bangkui" atau hanya sekedar tau saja tanpa ingin mempelajari dan mengetahui lebih mendalam.  Mungkin disini saya akan memperkenalkan apa itu Pencak Silat Dayak Ngaju yang bernama Kuntau Bangkui.

Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah mempunyai pencak silat yang bernama Kuntau Bangkui. Pada zaman dahulu, umumnya Kuntau dan Bangkui terpisah tetapi sekarang digenerasi penulis kedua silat tersebut sudah digabung menjadi Kuntau Bangkui. Pada saat zaman kayau di Kalimantan, setiap pemuda suku Dayak Ngaju wajib mengusai ilmu beladiri, sebagai bekal untuk merantau, pertahanan diri jika diserang, pergi berperang atau mengayau. Beladiri tersebut diwariskan secara turun temurun, baik yang diwariskan secara garis keluarga ataupun belajar dari guru beladiri. Tetapi dizaman sekarang banyak dari generasi muda Dayak Ngaju yang meninggalkan tradisi beladiri ini bahkan sudah tidak mengenal apa itu Kuntau Bangkui, hanya sebagian kecil yang masih mempertahankan tradisi ini, sebagai bekal untuk perlindungi diri.

Sejarah Kuntau menurut lisan para generasi tua merupakan pencak silat warisan nenek moyang orang Dayak dari zaman dahulu kala, gerakannya banyak mirip dengan beladiri dari dataran China karena konon asal muasal suku Dayak berasal dari daerah dataran China, lebih tepatnya Yunan. Tetapi belum ada bukti otentik mengenai pendapat tersebut, terutama dikaji secara uji genetik. Kuntau sering ditampilkan dalam upacara - upacara tertentu dan sudah menjadi bagian dari tradisi adat misalnya dalam acara pesta perkawinan adat Dayak Ngaju, lebih sering dikenal dengan sebutan Lawang Skepeng dan selalu diiringi dengan tabuhan gendang khas Dayak. Kuntau sendiri terdiri dari berbagai macam bentuk jurus dan langkah gerakan yang berbeda-beda, tergantung wilayah dan tempat dimana kita belajar Kuntau tersebut. Akan tetapi Kuntau mempunyai ciri khas persamaan gerakan , sehingga mudah dikenali. Proses belajar kuntau pun pada umumnya relatif lama, sulit dan harus mempunyai ketahanan fisik yang kuat. Proses terakhir dari belajar Kuntau ialah kita berada dalam suatu lingkaran, dan harus bisa menangkis serangan yang menggunakan Mandau. Biasanya guru akan membekali para muridnya dengan memberikan "Minyak garak", yaitu cairan berupa minyak yang jika dioleskan ketangan, gerakan tangan akan menjadi lebih lincah.

Untuk Bangkui sendiri merupakan seni beladiri yang gerakannya di inspirasi dari gerakan hewan bangkui yaitu sejenis monyet yang hidup dibelantara Kalimantan. Bangkui digunakan sebagai jurus pamungkas untuk mematikan dan mengunci gerakan lawan, karena gerakan bangkui sendiri banyak mempunyai gerakan melumpuhkan lawan dengan hanya satu kali serangan, untuk itu Bangkui sangat berbahaya jika digunakan secara sembarangan. Seni beladiri Bangkui menggunakkan tangan kosong dan mengandalkan kelincahan gerakan pemainnya, meski ada juga beladiri Bangkui yang menggunakan toya/tongkat. Bangkui lebih cenderung menyerang musuh dari bagian bawah dan langsung menyerang titik pertahanan tubuh lawan.

Mungkin hanya ini yang dapat saya tulis untuk lebih memperkenalkan bagian dari adat istiadat Dayak Ngaju yang makin tenggelam akibat arus modernisasi, agar kembali bisa dikenali dan kembali dipelajari oleh para generasi muda terutama Dayak Ngaju. Kalau bukan kita sebagai bagian dari masyarakat Dayak yang mau mempertahankan dan memperkenalkan budayanya, siapa lagi ?
Modern dan adat istiadat bisa berjalan beriringan.

Tabe :) Salam Isen Mulang

SEJARAH MANDOMAI


Pada zaman dahulu kala, sekitar abad ke 15 Mandomai dan pada umumnya Kalimantan Tengah masih tergolong tempat yang masih murni yaitu hutan belantara dan belum tersentuh oleh para pendatang. Penduduk aslinya ialah Suku Dayak Ngaju yaitu suku Dayak yang mendiami sepanjang bantaran sungai Kapuas dan kepercayaan yang di anut pun masih kepercayaan nenek moyang yaitu Kaharingan yang artinya "Kehidupan". Suku Dayak Ngaju pada zaman dahulu merupakan salah satu suku terkuat yang melakukan budaya "Kayau" atau budaya berburu kepala, disamping Dayak Iban, Dayak Ot dan Dayak Kenyah.

Rumah tempat tinggal suku Dayak Ngaju pada zaman dahulu ialah Rumah Betang atau dalam bahasa Dayak Ngaju Kapuas di sebut "Huma hai". Rekonstruksi rumah ini seperti rumah panggung pada umumnya, mempunyai tiang rumah yang tinggi kira-kira 10 meter dan lebar rumah  sekitar 50 meter. Maksud orang Dayak pada zaman dahulu mendirikan rumah tinggi ialah untuk menghindari dari bahaya seperti binatang buas, banjir dan budaya kayau. Rumah Betang biasanya di huni 20 bahkan sampai 100 kepala keluarga, tergantung dari ukuran rumah Betang tersebut.

Pada zaman dahulu sebelum kedatangan para pendatang, Mandomai dahulu bernama Desa Tacang Tangguhan, sebuah desa kecil yang pada kala itu hanya terdapat beberapa rumah Betang. Masyarakatnya pun kala itu masih tergolong premitif, menggunakan baju dari anyaman rotan, kulit kayu maupun kulit hewan. Kegiatan masyarakatnya masih tergolong sederhana seperti berburu, nelayan sungai dan bertani. Budaya kayau (berburu kepala) pada saat itu pun masih dipegang teguh. Selain itu budaya Dayak yang masih dipegang teguh oleh masyarakat kala itu masih murni seperti kepercayaan Kaharingan, tiwah (upacara kematian suku Dayak Ngaju), tatto, tari - tarian dan banyak lagi lainnya. Ciri - ciri fisik orang Dayak Ngaju zaman dulu ialah berkulit putih, bermata sipit, tubuh tegap, menggunakan celana "ewah" yaitu balutan kain dengan khas di julurkan selembar kain di depannya, menggunakan kalung dari taring binatang buas, menggunakan hiasan kepala baik ikat kepala maupaun dari anyaman rotan yang dihiasi dengan bulu burung dan senjata tradisionalnya berupa Mandau, Tombak, Sumpit dan perisai (telabang).

Seiring dengan perkembangan zaman dan mulai memudarnya budaya kayau sekitar abad ke 18, para pendatang mulai berani menginjakkan kakinya di bumi Kalimantan Tengah. Umumnya para pendatang dari Tanah Banjar ( Banjarmasin ), dari tanah Jawa dan orang2 Belanda yang umumnya sebagai penjajah. Menilik sejarah kampung Mandomai, Mandomai sejak zaman kolonial Belanda sudah terkenal akan keramaiannya dan pada saat itu Mandomai di jadikan sebagai pusat penyebaran agama Kristen diseluruh Kalimantan Tengah. Mandomai juga merupakan tempat awal mula penyebaran agama Islam kepada orang Dayak terutama didaerah aliran sungai Kapuas. Jadi artinya mandomai sejak dulu sebagai pusat penyebaran 2 agama di Kalimantan Tengah.
Dengan kedatangan para pendatang secara tidak langsung membawa perubahan pola hidup masyarakat suku Dayak Ngaju mulai dari kepercayaan sampai sosial budaya. Efek nyata dari budaya yang diterima adalah Agama Islam mulai masuk dan berkembang di Mandomai pada Abad ke-18  dengan berdirinya Mesjid Jami Al-Ikhlas yang merupakan mesjid tertua di bantaran sungai Kapuas, kemudian didaerah hilir Mandomai terdapat Gereja Immanuel yang dulu dijadikan zending sebagai pusat penyebaran agama Kristen kepada orang Dayak dan termasuk gereja tertua di Kalimantan Tengah. Seiring dengan membaurnya dengan para pendatang, suku Dayak pun sudah kehilangan budaya Betangnya dimana para generasi Dayak sudah mempunya rumah sendiri - sendiri setiap kepala keluarga. Mandomai banyak melahirkan orang2 yang sangat berpengaruh di Provinsi Kalimantan tengah, bahkan pejabat-pejabat provinsi Kalimantan Tengah dikota Palangkaraya banyak keturunan dari Mandomai.

Tokoh legenda yang paling terkenal di Mandomai ialah "Raden Inyui Amoi Gilang" dimana ia dipercaya sebagai pendiri kampung Mandomai. Ia adalah seorang lelaki Dayak yang gagah perkasa, yang mempunyai kesaktian yang tinggi, sifat dan karakternya menggambarkan khasnya orang Dayak, Sang penakluk rimba. Tempat makam Raden Inyui terletak di Mandomai Hulu berupa Sandung (makam kepercayaan Kaharingan) dan kini namanya di jadikan nama sebuah jalan di Mandomai yang di kenal dengan Jl. RIA Gilang. Kemudian di Mandomai hulu masih terdapat sisa Rumah Betang yang masih berpenghuni yang sekarang dijadikan salah satu cagar Budaya Dayak Kab.Kapuas yang masih tersisa, Sandung Tahutun Pantar yg mana disandung tersebut bertuliskan tahun 1735 yang menandakan kampung Mandomai termasuk kampung tua. Dari Mandomai kearah hulu lagi, dahulu ada anak sungai Kapuas yang dianggap keramat oleh warga setempat yaitu sungai Garantung, tetapi dengan seiring perkembangan zaman sungai tersebut sudah dianggap hal biasa bagi masyarakat setempat dan tidak begitu dianggap keramat lagi.

Mandomai bukanlah nama asli kampungnya, banyak versi mengenai nama Mandomai, ada yang mengatakan diberikan oleh orang - orang Banjar sebagai warga pendatang dimana Mandomai di ambil dari kata bahasa Dayak Ngaju " Mandui Mai " yang artinya " Ibu mandi " akibat orang - orang Banjar sering mendengar percakapan tersebut dari lisan orang Dayak, atas dasar itulah mereka memberi nama kampung Mandomai. Ada versi lain juga yang menyebutkan Mandomai diambil dari kata "Man = aman" dan "Domai = Damai" apabila digabung Mandomai berarti Desa yang Damai. Tapi banyak yang tidak mengetahui bahwa nama asli Mandomai  ialah Tacang Tangguhan.

Kini Mandomai  manjadi ibukota kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, berbatasan langsung dengan Kabupaten Pulang Pisau. Mandomai membawahi beberapa Desa yaitu Desa Saka Mangkahai, Anjir Kalampan, Tumbang Umap, Pantai, Penda Katapi, Saka Tamiang dan masih banyak lagi yang lain. Sampai sekarang Mandomai masih dijadikan sebagai pusat pendidikan bagi warga sekitar Kecamatan Kapuas Barat dan sepanjang arah bantaran sungai Kapuas. Tapi meski hanya sebuah kecamatan, jauhkan pikiran bahwa Mandomai adalah daerah terpencil, karena di sana berbagai fasilitas seperti Sekolah, Layanan Kesehatan, jaringan internet, jaringan handphone, listrik dan lain sebagainya sudah tersedia sejak lama, dan akses jalannya pun sangat mudah, jadi tak ada kata tertinggal. Mayoritas penduduk kecamatan Kapuas barat (Mandomai) beragama Islam 70%, dan diikuti agaman Kristen Protestan, Katolik, dan kaharingan (Kepercayaan nenek moyang suku Dayak). Suku mayoritas di Mandomai adalah Dayak Ngaju ( Kapuas-Kahayan), Dayak Bakumpai, Dayak Ma'anyan, serta Dayak lainnya, Banjar ( Melayu Kalimantan ), diikuti oleh suku Jawa dan lain-lain.

 Foto Dayak Ngaju tahun 1800an

 Foto Jembatan Muara Anjir Mandomai sekarang


 Foto Sandung Tahutun Pantar 1735 diMandomai Hulu sekarang


 Kelurahan Mandomai sekarang dari tepi sungai Kapuas


 Warga Mandomai tahun 1890


 Foto Mesjid Jami Al Ikhlas tahun 1903


 Foto Mandomai Tempo dulu


 Mandomai Tempo dulu


Lewu Lanting "Kuburan Kepercayaan Kaharingan" kearah Hilir dari Mandomai Hilir

Sekilas tentang perjalanan hidup

Nama saya Faisal Iswandi S Muis, saya berasal dari Mandomai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah ( Indonesia). Provinsi yang sebagian besar wilayahnya masih berupa hutan dan terletak di tengah-tengah Pulau Borneo.

Semenjak kecil saya tinggal dan dibesarkan di Mandomai yaitu sebuah Kecamatan di Kabupaten Kapuas. Saya terlahir dari keluarga yang sederhana, yang masih memegang adat istiadat Dayak Ngaju dan berlandaskan religi Islami. Mandomai adalah tempat yang banyak sekali menyimpan kenangan dan selalu akan menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya yang takkan pernah terlupakan.

Tepat tanggal 16 Desember 1991, jam 23.00 WIB terlahirlah seorang anak yang bernama Faisal Iswandi S Muis bin H.Supardi Abdul Muis bin Abdul Muis Toeng bin Toeng. Ayah saya bernama H.Supardi Abdul Muis, SE, MSi yang merupakan anak asli Dayak Ngaju Mandomai, masih keturunan pendiri kampung Mandomai yaitu "Pangkalima Dambung". Gelar Pangkalima bagi suku Dayak Ngaju zaman dahulu berarti seorang pemimpin, kepala suku atau yang paling disegani. Ibu bernama Hj.Siti Fatimah yang merupakan anak dari salah satu pejuang kemerdekaan RI, yang bernama H.Hamzah Zambran Mahin. Kakek berasal dari Desa Kanamit, Kabupaten Pulang Pisau, Kal-Teng. Kakek berpangkat terakhir Sersan Mayor yang dianugerahkan oleh Presiden Soeharto karena jasa - jasa beliau dalam masa perjuangan. Kakek masih keturunan " Patih Rumbih " seorang tokoh asal Dayak Ngaju Kahayan yang sangat tersohor di Kalimantan Tengah. Saya mempunyai 2 orang saudara laki - laki yang bernama Ahmad Sofyan Apriady S Muis dan Rudiansyah S Muis.

Mulai dari masa TK, SD, SMP bahkan SMA, saya habiskan di Mandomai. Perjalanan sekolah saya di mulai dari TK Pertiwi, sebuah TK Negeri yang terletak di Mandomai. Di TK inilah saya diajari membaca, berhitung, menulis dan bernyanyi oleh guru-guru saya. Di TK ini juga saya banyak mendapat teman bermain semasa kecil, melakukan hal-hal lucu dan konyol. 2 tahun lamanya saya bersekolah di TK ini dan pada tahun 1997 saya lulus dari TK Pertiwi.
Pada tahun 1997, dengan umur yang masih 5,5 tahun saya masuk Sekolah Dasar yaitu di SD Negeri Mandomai II, SD yang termasuk favorit di Mandomai. Disini saya banyak mengenal teman - teman baru yang pinter, lucu, usil dan nakal. Hal yang masih saya ingat dan menurut saya yang paling lucu adalah saya selalu menangis saat masih duduk di kelas 1 setiap diadakannya test Dikte karena pada saat itu kecepatan menulis saya sangat lambat dan selalu ketinggalan menulis. 6 tahun lamanya saya bersekolah di SD ini, dan akhirnya pada tahun 2003 saya lulus dengan peringkat 10 besar. Meski tidak terlalu bagus, tapi saat itu saya merasa itu merupakan tingkat pencapaian saya yang paling bagus selama bersekolah di SD, karena waktu SD saya termasuk anak yang pemalas dan hobby main.

Tahun 2003, saya masuk di sekolah SMP favorit di Mandomai yaitu SMP Negeri 1 Kapuas Barat, bertepatan dengan diterimanya Kakak tertua saya masuk Universitas Gajah Mada di YogyaKarta. Pada hari pertama MOS ( Masa Orientasi Siswa )  saya sudah mendapat hukuman dari guru karena datang terlambat. Setelah masa MOS berakhir dimulailah perjalanan hidup saya di SMP Negeri 1 Kapuas Barat. Di SMP inilah saya banyak mendapat teman baru yang datang dari berbagai Desa dan Kecamatan disekitar wilayah Mandomai, karena SMP Negeri 1 Kapuas Barat termasuk sekolah favorit yang letaknya di Kecamatan dan termasuk Sekolah Standart Nasional. Di SMP ini saya mulai giat belajar, aktif mengikuti les yang di berikan guru, aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler maupun kegiatan lainnya. Hal ini pun terbayar dengan saya mendapatkan peringkat 1 di kelas mulai dari kelas 7 B, 8 B dan 9 D. Selain itu saya juga mendapatkan beasiswa prestasi, juara dalam lomba olah raga dan seni. Selain aktif dalam kegiatan Pramuka, saya juga aktif dalam kegiatan OSIS. Di Sekolah ini banyak sekali kenangan bersama teman-teman yang takkan terlupakan baik berupa canda tawa, dimarahi guru karena berisik, kejar-kejaran didalam kelas, lempar-lemparan kapur tulis, usil terhadap teman yang dianggap culun, bahkan sampai cinta monyet. Setelah 3 tahun bersekolah di SMP Negeri 1 Kapuas Barat, tahun 2006 saya lulus dari SMP dengan peringkat yang tidak mengecewakan orang tua.

Tahun 2006, saya masuk sekolah SMA yang juga termasuk Sekolah Standart Nasional dan letaknya pun masih di Mandomai, yaitu SMA Negeri 1 Kapuas Barat yang merupakan termasuk salah satu sekolah favorit di Kabupaten Kapuas. Hari pertama MOS pun kembali saya lalui, dan hukuman demi hukuman pun kembali menghampiri, terutama dari panitia MOS. Mulai dari disuruh memungut sampah di sekolah, membersihkan lantai sekolah, di suruh bernyanyi didepan anak-anak  peserta MOS dan lain-lain. Setelah MOS selesai, dimulailah kisah baru di SMA Negeri 1 Kapuas Barat.
Hari pertama masuk sekolah saya masuk di ruang kelas 10 C. Lazimnya para siswa baru, saya banyak berkenalan dengan teman-teman baru dengan berbagai macam karakter, mulai dari orangnya yang asyik, usil, kocak, hobby ngomong, hobby dandan sampai ada yang pendiam, culun, dan ada yang misterius (bakat-bakat untuk di bully). Masa SMA adalah masa yang paling indah, begitulah pepatah mengatakan dan itu memang benar. Pada masa-masa itu juga tingkat kenakalan remaja meningkat, masa labil dan masa mencari jati diri. Saat kami menjadi junior di SMA tidak jarang mendapat intimidasi dari para senior dan sering berujung pada perkelahian. (Jangan ditiru).
Saat naik kelas saya masuk kelas 11 IPA 2, dimana yang namanya kelas IPA pasti banyak berkumpul orang-orang pintar dari masing-masing kelas waktu dikelas 10. Meski saya peringkat pertama waktu di kelas 10 C, namun saya banyak mendapat saingan yang tidak kalah pintarnya. Kegiatan-kegiatan sekolah seperti OSIS, Pramuka, PMR dan ekstrakulikuler lainya juga saya ikuti, selain itu saya juga aktif dalam perguruan pencak silat. Berbagai lomba juga saya ikuti mulai dari Olimpiade antar sekolah dan jenis lomba-lomba lainnya dan hasilnya tidak begitu mengecewakan. Prestasi tertinggi kami angkatan 2006 di SMA adalah berhasil mengantarkan sekolah SMA Negeri 1 Kapuas Barat menjadi juara 1 sekolah Terbersih dan UKS terbaik se-Kalimantan Tengah tingkat SMA, dan menjadi peringkat 10 besar di tingkat Nasional.

Di masa SMA inilah saya banyak mendapat kenangan indah bersama para sahabat, mulai dari main bareng, nongkrong, mengerjakan tugas dan masih banyak lagi, dan tentu tidak lupa kisah percintaan. Sahabat saya ketika SMA adalah Leo Upu Maleh, Khairul Mursalin, Gery natalio, Delvin Simange, Ade Adityawarman, Inceng, Lianto, Syahrial Effendy, Ahmad Prianto Rifansyah serta banyak lagi yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Di hampir penghujung masa SMA, saya mencoba memberanikan diri untuk mendaftar di Universitas Negeri di Jawa. Dengan bermodalkan peringkat 1 dari kelas 10, 11 dan 12 saya mencoba peruntungan nasib untuk mengikuti Test Universitas Negeri di Jawa, meski awalnya tak yakin dengan kemampuan yg dimiliki untuk bersaing dengan siswa-siswa dari Jawa dan luar Jawa. Universitas yang salah pilih adalah Universitas Diponegoro yang terletak di kota Semarang, karena kakak kedua saya juga kuliah di Universitas ini di jurusan Teknik Planologi. Jurusan yang saya pilih adalah Pendidikan Dokter, meski awalnya saya sangat bercita-cita ingin menjadi seorang sarjana arsitek, tapi sering berubahnya pola pikir dan atas arahan orang tua maka Pendidikan Dokter lah yang saya pilih. Alhamdulillah, dengan tidak di sangka-sangka akhirnya saya di terima di fakultas Kedoteran Universitas Diponegoro Semarang. Begitu senang rasanya bisa menyenangkan hati kedua orang tua dan bangga bisa lolos test universites negeri dijawa.
Setelah beberapa minggu kemudian, tibalah masanya UAN (Ujian Akhir Nasional) yang mana nasib kami selama bersekolah di SMA di tentukan dengan UAN. Alhamdulillah dengan nilai terbaik kedua di seluruh angkatan, akhirnya saya lulus dari SMA dengan predikat nilai yang memuaskan dan seluruh siswa angkatan 2006 SMA Negeri 1 Kapuas Barat lulus 100%. Acara perpisahan pun di laksanakan yang menandakan berakhirnya masa SMA kami di Sekolah SMA Negeri 1 Kapuas Barat, terlihat haru, tawa canda, bangga, dan suka duka diwajah para teman dan sahabat, dimana kami semua harus berpisah dan pergi untuk melanjutkan pendidikan sesuai cita-cita yang kami inginkan.
Selanjutnya saya pergi meninggalkan kampung halaman saya di Mandomai, merantau ke tanah Jawa untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi lagi.  Perjalanan hidup saya, saya mulai kembali di kota Semarang, Jawa Tengah. Cita-cita saya selanjutnya adalah lulus menjadi seorang dokter umum tepat waktu, melanjutkan pendidikan program dokter spesialis, kembali ke Kal-Teng, membangun Kal-Teng  dengan menjadi seorang pendidik dan berprofesi sebagai dokter, dapat menjadi pemimpin di tanah leluhur sendiri yaitu di "Bumi Tambun Bungai". Salam Isen Mulang.




 

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Mengenai Saya

Foto Saya
Nama saya Faisal Iswandi S Muis. Saya berasal dari Mandomai, Kab. Kapuas dan sekarang tinggal di Kota Palangkaraya Kalimantan Tengah. Sewaktu SMA masih di Mandomai, alumni SMA Negeri 1 Kapuas Barat. Sekarang saya kuliah di Fakultas kedokteran/ jurusan dokter umum Universitas Diponegoro, Semarang.

Pengikut